“Lutein” dan “Zeaxantin” Mencegah Katarak

Menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat ini terdapat 180 juta penduduk dunia yang mengalami cacat penglihatan. Sebanyak 40-45 juta di antaranya tidak dapat melihat atau buta. Laporan WHO juga mengungkapkan bahwa setiap detik  tambah satu penderita kebutaan di dunia.

Sembilan dari 10 penderita kebutaan tersebut berada di negara miskin dan berkembang, terutama negara-negara Afrika dan Asia Selatan atau Asia Tenggara. Khusus untuk Indonesia, diperkirakan 3,1 juta jiwa (1,5 persen) penduduknya mengalami kebutaan.

Penyebab utama kebutaan di dunia adalah katarak (45 persen). Penyebab lain antara lain adalah glaucoma, diabetes melitus, dan trauma (37,5 persen); trachoma (12,5 persen); dan onchocerciasis atau river blindness (0,6 persen).

Katarak adalah istilah medis untuk setiap keadaan keruh pada lensa mata. Lensa mata terutama disusun oleh air, protein, dan lipid. Protein tersusun demikian sehingga cahaya dapat menembus lensa dan difokuskan pada retina. Kadang-kadang protein tersebut mengumpul bersama sehingga memperkeruh atau menutupi bagian kecil pada lensa. Itulah yang disebut katarak. Makin lama, kumpulan protein tersebut membesar dan memperkeruh lensa. Tanda-tanda katarak antara lain penglihatan kabur, cahaya lampu kelihatan terlalu terang pada malam hari, cahaya matahari atau lampu silau, dan warna tampak pudar.

Sampai saat ini, para ahli belum dapat memastikan penyebab utama katarak. Namun, mereka yakin bahwa katarak disebabkan oleh banyak faktor secara sendiri-sendiri atau bersamaan. Salah satu penyebab logis adalah perubahan protein dan lipid pada lensa mata berkaitan dengan bertambahnya usia. Hal ini selaras dengan fakta bahwa pada umumnya katarak terjadi pada usia lanjut.

“Lutein” dan “Zeaxanthin”

Berbagai temuan terbaru mengungkapkan bahwa pola hidup sehat dan konsumsi pangan kaya antioksidan berperan mencegah atau menunda kejadian katarak. Antioksidan yang telah terbukti dapat mencegah atau menunda kejadian katarak adalah Lutein dan Zeaxanthin.

Adanya gugus hidroksil pada struktur molekulnya membedakan Lutein dan Zeaxanthin dengan karotenoid lain. Dengan adanya gugus hidroksil ini, Lutein dan Zeaxanthin lebih bersifat polar daripada karotenoid lain, seperti beta-karoten. Polaritas ini berkaitan dengan kemampuannya berikatan dengan radikal bebas yang merusak mata.

Mekanisme

Berendschot dan kawan-kawan dari Departemen Optalmologi, Universitas Utrecht, Belanda, menemukan bahwa di antara karotenoid yang ada, Lutein dan Zeaxanthin-lah yang terdapat pada lensa mata manusia. Fakta ini mendukung temuan Dr Yeum sebelumnya bahwa Lutein hadir pada lensa mata (Yeum dari Universitas Tufts adalah orang yang pertama menemukan Lutein pada lensa mata).

Lyle dari Universitas Wisconsin-Madison melakukan penelitian kaitan antara asupan antioksidan dan kejadian katarak inti (nuclear cataracts) pada orang dewasa yang berumur 43-84 tahun. Dari semua antioksidan yang diteliti, hanya lutein dan zeaxanthin yang memiliki sifat protektif terhadap katarak.

Bagaimana Lutein dan Zeaxanthin mencegah atau menunda munculnya katarak? Sifat antioksidannya yang ampuh memberi jawaban atas pertanyaan ini. Radikal bebas, yang berasal dari sinar matahari atau cemaran dari udara, yang masuk ke mata mengoksidasi molekul rentan pada lensa mata.

Molekul tersebut adalah protein dan lipid yang menyusun lensa mata. Efek dari oksidasi ini adalah timbulnya gerombolan protein atau lipid yang rusak pada lensa mata. Seiring dengan bertambahnya usia dan makin terakumulasinya tekanan radikal bebas, gerombolan protein dan lipid yang rusak tersebut makin besar. Itulah yang membuat penglihatan kabur dan lama-kelamaan menjadi buta.

Lutein dan Zeaxanthin menangkapi radikal bebas (dengan cara berikatan dengannya) sebelum mereka merusak protein atau lipid lensa. Lutein dan Zeaxanthin dapat diibaratkan sebagai “bodyguard” lensa mata terhadap serangan radikal bebas.

Kalau kita mengacu kepada target global WHO pada pencegahan kebutaan, yaitu menurunkan prevalensi kebutaan pada semua negara hingga 0,5 persen, maka kita dituntut untuk dapat menurunkan prevelensi kebutaan minimal sebesar 1 persen (dari 1,5 persen). Angka ini setara dengan 2 juta lebih penderita kebutaan. Ini merupakan pekerjaan berat.

Pepatah bijak yang mengatakan “Lebih baik mencegah daripada mengobati” mungkin sangat relevan dalam hal ini. Bukti ilmiah telah secara meyakinkan membuktikan bahwa mengonsumsi Lutein dan Zeaxanthin dapat mencegah atau menunda timbulnya katarak pada usia lanjut.

Mengonsumsi sayur yang beraneka ragam tiga porsi sehari dapat memenuhi kebutuhan Lutein dan Zeaxanthin masing-masing sekitar 5-6 miligram per hari. Kalau hal itu sulit dilakukan, mengonsumsi suplemen makanan yang mengandung Lutein dan Zeaxantin adalah pilihan lain, tentunya, terlebih dahulu berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter.

Albiner Siagian Pengajar Bagian Gizi FKM Universitas Sumatera Utara, Medan

Sumber: http://www.gizi.net

http://www.kompas.co.id/

Blue Light and Macular Degeneration

from Macular Degeneration–The Complete Guide To Saving And Maximizing Your Sight
by Lylas G. Mogk, M.D. and Marja Mogk
(Reprinted with permission)

In many primate studies, blue light has been shown to cause a photochemical reaction that produces free radicals in the RPE and the rods and cones. Researchers believe that these free radicals interact with the high oxygen and lipid content in human rod and cone tips to produce abnormal chunks of metabolized waste that cannot be properly processed by the RPE, clogging up the macula’s maintenance system and producing dry macular degeneration.

Melanin, the substance that gives eyes their color, protects the macula by trapping light rays so they don’t reach the macula and cause damage. People with fair skin and blue or light-colored eyes may be particularly susceptible to macular damage by blue light because they have less melanin in their irises. Their blue eyes transmit up to one hundred times as much light to the back of the eye as dark colored eyes do. Additionally, when the light reaches the choroid and RPE of people with fair skin and blue eyes, there is less melanin there to absorb the radiant energy, leaving these tissues more vulnerable to light damage. Can blue light rays cause macular degeneration? Can you reduce your risk by protecting your eyes from blue light? The answer is maybe.

Although the laboratory studies on animals seem nearly unanimous, the real world studies on people have produced conflicting results. Some studies positively link macular degeneration with any kind of light exposure, other studies have found a weak correlation between macular degeneration and blue light exposure, and yet a third group of studies has found no correlation at all between macular degeneration and sunlight. One Australian study concluded that the problem is not total sun exposure, but exactly how sensitive you are to the sun. It hypothesized that people who have plenty of melanin and don’t tend to burn easily are at less risk for macular degeneration than people who burn easily or are bothered by by sun glare. This study also concluded that people with blue irises are at increased risk for ARMD. These results, which have not been replicated or confirmed, do not allow me to state absolutely that blue light contributes to the development of macular degeneration, but it is certainly plausible. Based on the possible benefit, I recommend wearing blue blockers, especially if you have fair skin and blue or light-colored eyes, if you have any other risk factors, or if you spend lots of time in bright sunlight, or on water, sand, or snow, which reflects sunlight. Alternatively, wear a sun visor when you are outside.

Blue Light and Blue Blockers

Unlike UV light, blue light is visible to us. Blue light waves are what makes the sky, or any object, appear blue. Blue light waves are also very short and scatter easily, so a great deal of the glare we experience from sunlight also comes from blue light. Since we can’t see UV light, we also can’t see the lens filter used to protect us from UV rays. Conversely, since we can see blue light, we can also see blue blockers, the lens filters that block blue rays. Blue blockers do not act like regular sunglasses. They appear tinted, but they do not reduce overall light or make the world look darker. They alter the appearance of blue and green colors and reduce glare, but they don’t affect the way other colors appear. In fact, they may even improve color contrast. Because of these characteristics, blue blockers were very popular a few years ago as sports glasses. Many people with macular degeneration find them particularly helpful regardless of their health benefits, because they reduce glare indoors and outdoors while keeping the world bright and visible.

The color that blocks blue is yellow, so blue blockers must contain a yellow tint. Optical shops usually offer a dark, amber lens to provide yellow tint in regular sunglasses. There are ready-made “NOIR” sunglasses that block blue and UV light with a variety of tints, including light yellow, dark yellow, amber, and plum. People with macular degeneration usually prefer dark yellow or plum. NOIR glasses are available as clip-ons, and both NOIR and Eschenbach offer large plastic frames that fit over your regular glasses. You can also ask your 1ocal optical shop to make you a pair of UV and blue blocker glasses or add blue blockers to your existing glasses. Remember, blue blockers will make your lenses look darker, but they won’t make the world look that much darker.

For further information, see “Artificial Lighting and the Blue Light Hazard” in the MD Support Library.

This information is provided by Macular Degeneration Support at www.mdsupport.org.
One printed copy is permitted for personal use only.


Refraksi

Defenisi
Kelainan refraksi adalah keadaan bayangan tegas tidak dibentuk pada retina. Secara umum, terjadi ketidak seimbangan sistem penglihatan pada mata sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Sinar tidak dibiaskan tepat pada retina, tetapi dapat di depan atau di belakang retina dan tidak terletak pada satu titik fokus. Kelainan refraksi dapat diakibatkan terjadinya kelainan kelengkungan kornea dan lensa, perubahan indeks bias, dan kelainan panjang sumbu bola mata.

Ametropia adalah suatu keadaan mata dengan kelainan refraksi sehingga pada mata yang dalam keadaan istirahat memberikan fokus yang tidak terletak pada retina. Ametropia dapat ditemukan dalam bentuk kelainan miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmat.

Akomodasi
Pada keadaan normal cahaya berasal dari jarak tak berhingga atau jauh akan terfokus pada retina, demikian pula bila benda jauh tersebut didekatkan, hal ini terjadi akibat adanya daya akomodasi lensa yang memfokuskan bayangan pada retina. Jika berakomodasi, maka benda pada jarak yang berbeda-beda akan terfokus pada retina. Akomodasi adalah kemampuan lensa di dalam mata untuk mencembung yang terjadi akibat kontraksi otot siliar. Akibat akomodasi, daya pembiasan lensa yang mencembung bertambah kuat. Kekuatan akan meningkat sesuai dengan kebutuhan, makin dekat benda makin kuat mata harus berakomodasi. Refleks akomodasi akan bangkit bila mata melihat kabur dan pada waktu melihat dekat. Bila benda terletak jauh bayangan akan terletak pada retina. Bila benda tersebut didekatkan maka bayangan akan bergeser ke belakang retina. Akibat benda ini didekatkan penglihatan menjadi kabur, maka mata akan berakomodasi dengan mencembungkan lensa. Kekuatan akomodasi ditentukan dengan satuan Dioptri (D), lensa 1 D mempunyai titik fokus pada jarak 1 meter.

Epidemiologi
Sekitar 148 juta atau 51% penduduk di Amerika Serikat memakai alat pengkoreksi gangguan refraksi, dengan penggunaan lensa kontak mencapai 34 juta orang. Angka kejadian rabun jauh meningkat sesuai dengan pertambahan usia. Jumlah penderita rabun jauh di Amerika Serikat berkisar 3% antara usia 5-7 tahun, 8% antara usia 8-10 tahun, 14% antara usia 11-12 tahun dan 25% antara usia 12-17 tahun. Pada etnis tertentu, peningkatan angka kejadian juga terjadi walupun persentase tiap usia berbeda. Etnis Cina memiliki insiden rabun jauh lebih tinggi pada seluruh usia. Studi nasional Taiwan menemukan prevalensi sebanyak 12% pada usia  6 tahun dan 84 % pada usia 16-18 tahun. Angka yang sama juga dijumpai di Singapura dan Jepang.

Miopia
Miopia disebut rabun jauh karena berkurangnya kemampuan melihat jauh tapi dapat melihat dekat dengan lebih baik. Miopia terjadi jika kornea (terlalu cembung) dan lensa (kecembungan kuat) berkekuatan lebih atau bola mata terlalu panjang sehingga titik fokus sinar yang dibiaskan akan terletak di depan retina.

Gbr.1 : Mata Miopia

Miopia ditentukan dengan ukuran lensa negatif dalam Dioptri. Klasifikasi miopia antara lain: ringan (3D), sedang (3 – 6D), berat (6 – 9D), dan sangat berat (>9D).

Gejala miopia antara lain penglihatan kabur melihat jauh dan hanya jelas pada jarak tertentu/dekat, selalu ingin melihat dengan mendekatkan benda yang dilihat pada mata, gangguan dalam pekerjaan, dan jarang sakit kepala.

Koreksi mata miopia dengan memakai lensa minus/negatif ukuran teringan yang sesuai untuk mengurangi kekuatan daya pembiasan di dalam mata. Biasanya pengobatan dengan kaca mata dan lensa kontak. Pemakaian kaca mata dapat terjadi pengecilan ukuran benda yang dilihat, yaitu setiap -1D akan memberikan kesan pengecilan benda 2%. Pada keadaan tertentu, miopia dapat diatasi dengan pembedahan pada kornea antara lain keratotomi radial, keratektomi fotorefraktif, Laser Asissted In situ Interlamelar Keratomilieusis (Lasik).

Hipermetropia
Hipermetropia adalah keadaan mata yang tidak berakomodasi memfokuskan bayangan di belakang retina. Hipermetropia terjadi jika kekuatan yang tidak sesuai antara panjang bola mata dan kekuatan pembiasan kornea dan lensa lemah sehingga titik fokus sinar terletak di belakang retina. Hal ini dapat disebabkan oleh penurunan panjang sumbu bola mata (hipermetropia aksial), seperti yang terjadi pada kelainan bawaan tertentu, atau penurunan indeks bias refraktif (hipermetropia refraktif), seperti afakia (tidak mempunyai lensa).

Gambar 2. Mata Hipermetropia

Pasien dengan hipermetropia mendapat kesukaran untuk melihat dekat akibat sukarnya berakomodasi. Bila hipermetropia lebih dari + 3.00 D maka penglihatan jauh juga akan terganggu. Pasien hipermetropia hingga + 2.00 D dengan usia muda atau 20 tahun masih dapat melihat jauh dan dekat tanpa kaca mata tanpa kesulitan, namun tidak demikian bila usia sudah 60 tahun. Keluhan akan bertambah dengan bertambahnya umur yang diakibatkan melemahnya otot siliar untuk akomodasi dan berkurangnya kekenyalan lensa. Pada perubahan usia, lensa berangsur-angsur tidak dapat memfokuskan bayangan pada retina sehingga akan lebih terletak di belakangnya. Sehingga diperlukan penambahan lensa positif atau konveks dengan bertambahnya usia. Pada anak usia 0-3 tahun hipermetropia akan bertambah sedikit yaitu 0-2.00 D.

Pada hipermetropia dirasakan sakit kepala terutama di dahi, silau, dan kadang juling atau melihat ganda. Kemudian pasien juga mengeluh matanya lelah dan sakit karena terus-menerus harus berakomodasi untuk melihat atau memfokuskan bayangan yang terletak di belakang retina. Pasien muda dengan hipermetropia tidak akan memberikan keluhan karena matanya masih mampu melakukan akomodasi kuat untuk melihat benda dengan jelas. Pada pasien yang banyak membaca atau mempergunakan matanya, terutama pada usia yang telah lanjut akan memberikan keluhan kelelahan setelah membaca. Keluhan tersebut berupa sakit kepala, mata terasa pedas dan tertekan.

Mata dengan hipermetropia akan memerlukan lensa cembung atau konveks untuk mematahkan sinar lebih kuat kedalam mata. Koreksi hipermetropia adalah diberikan koreksi lensa positif maksimal yang memberikan tajam penglihatan normal. Pasien dengan hipermetropia sebaiknya diberikan kaca mata lensa positif terbesar yang masih memberikan tajam penglihatan maksimal.

Astigmatisma
Astigmata terjadi jika kornea dan lensa mempunyai permukaan yang rata atau tidak rata sehingga tidak memberikan satu fokus titik api. Variasi kelengkungan kornea atau lensa mencegah sinar terfokus pada satu titik. Sebagian bayangan akan dapat terfokus pada bagian depan retina sedang sebagian lain sinar difokuskan di belakang retina. Akibatnya penglihatan akan terganggu. Mata dengan astigmatisme dapat dibandingkan dengan melihat melalui gelas dengan air yang bening. Bayangan yang terlihat dapat menjadi terlalu besar, kurus, terlalu lebar atau kabur.

Seseorang dengan astigmat akan memberikan keluhan : melihat jauh kabur sedang melihat dekat lebih baik, melihat ganda dengan satu atau kedua mata, melihat benda yang bulat menjadi lonjong, penglihatan akan kabur untuk jauh ataupun dekat, bentuk benda yang dilihat berubah, mengecilkan celah kelopak, sakit kepala, mata tegang dan pegal, mata dan fisik lelah. Koreksi mata astigmat adalah dengan memakai lensa dengan kedua kekuatan yang berbeda. Astigmat ringan tidak perlu diberi kaca mata.

Presbiopia
Presbiopia adalah perkembangan normal yang berhubungan dengan usia, yaitu akomodasi untuk melihat dekat perlahan-lahan berkurang. Presbiopia terjadi akibat penuaan lensa (lensa makin keras sehingga elastisitas berkurang) dan daya kontraksi otot akomodasi berkurang. Mata sukar berakomodasi karena lensa sukar memfokuskan sinar pada saat melihat dekat.

Gambar 3. Mata Presbiopia

Gejala presbiopia biasanya timbul setelah berusia 40 tahun. Usia awal mula terjadinya tergantung kelainan refraksi sebelumnya, kedalaman fokus (ukuran pupil), kegiatan penglihatan pasien, dan lainnya. Gejalanya antara lain setelah membaca akan mengeluh mata lelah, berair, dan sering terasa pedas, membaca dengan menjauhkan kertas yang dibaca, gangguan pekerjaan terutama di malam hari, sering memerlukan sinar yang lebih terang untuk membaca. Koreksi dengan kaca mata bifokus untuk melihat jauh dan dekat. Untuk membantu kekurangan daya akomodasi dapat digunakan lensa positif. Pasien presbiopia diperlukan kaca mata baca atau tambahan untuk membaca dekat dengan kekuatan tertentu sesuai usia, yaitu: +1D untuk 40 tahun, +1,5D untuk 45 tahun, +2D untuk 50 tahun, +2,5D untuk 55 tahun, dan +3D untuk 60 tahun. Jarak baca biasanya 33cm, sehingga tambahan +3D adalah lensa positif terkuat yang dapat diberikan.

Pemeriksaan Refraksi
Pemeriksaan refraksi terdiri dari 2 yaitu refraksi subyektif dan refraksi obyektif. Refraksi subyektif tergantung respon pasien untuk mendapatkan koreksi refraksi yang memberikan tajam penglihatan terbaik.

Gambar 4. Pemeriksaan Mata

Refraksi obyektif dilakukan dengan retinoskopi. Mayoritas retinoskopi menggunakan sistem proyeksi streak yang dikembangkan oleh Copeland. Retinoskopi dilakukan saat akomodasi pasien relaksasi dan pasien disuruh melihat ke suatu benda pada jarak tertentu yang diperkirakan tidak membutuhkan daya akomodasi.

Idealnya, pemeriksaan kelainan refraksi dilakukan saat akomodasi mata pasien istirahat. Pemeriksaan mata sebaiknya dimulai pada anak sebelum usia 5 tahun. Pada usia 20 – 50 tahun dan mata tidak memperlihatkan kelainan, maka pemeriksaan mata perlu dilakukan setiap 1 – 2 tahun. Setelah usia 50 tahun, pemeriksaan mata dilakukan setiap tahun.

Pencegahan
Selama bertahun-tahun, banyak pengobatan yang dilakukan untuk mencegah atau memperlambat progresi miopia, antara lain dengan:

    • Koreksi penglihatan dengan bantuan kacamata
    • Pemberian tetes mata atropin.
    • Menurunkan tekanan dalam bola mata.
    • Penggunaan lensa kontak kaku : memperlambat perburukan rabun dekat pada anak.
    • Latihan penglihatan : kegiatan merubah fokus jauh – dekat.

Gejala dan Tanda
Penderita kelainan refraksi biasanya datang dengan keluhan sakit kepala terutama di daerah tengkuk atau dahi, mata berair, cepat mengantuk, mata terasa pedas, pegal pada bola mata, dan penglihatan kabur. Tajam penglihatan pasien kurang dari normal (6/6). Ametropia pada anak dapat mengakibatkan seperti penglihatan kabur dan juling.

Terapi
Terapi meliputi edukasi mengenai kelainan refraksi, penggunaan kaca mata tidak menyembuhkan kelainan refraksi, meningkatkan jumlah asupan makanan yang mengandung vitamin A, B, dan C. Kebutuhan mengkoreksi kelainan refraksi tergantung gejala pasien dan kebutuhan penglihatan. Pasien dengan kelainan refraksi ringan dapat tidak membutuhkan koreksi. Koreksi kelainan refraksi bertujuan mendapatkan koreksi tajam penglihatan terbaik.

Kaca mata merupakan alat koreksi yang paling banyak dipergunakan karena mudah merawatnya dan murah. Lensa gelas dan plastik pada kaca mata atau lensa kontak akan mempengaruhi pengaliran sinar. Warna akan lebih kuat terlihat dengan mata telanjang dibanding dengan kaca mata. Lensa cekung kuat akan memberikan kesan pada benda yang dilihat menjadi lebih kecil, sedangkan lensa cembung akan memberikan kesan lebih besar. Keluhan memakai kaca mata diantaranya, kaca mata tidak selalu bersih, coating kaca mata mengurangkan kecerahan warna benda yang dilihat, mudah turun dari pangkal hidung, sakit pada telinga dan kepala.

Selain kacamata, lensa kontak juga alat koreksi yang cukup banyak dipergunakan. Lensa kontak merupakan lensa tipis yang diletakkan di dataran depan kornea untuk memperbaiki kelainan refraksi dan pengobatan. Lensa ini mempunyai diameter 8-10 mm, nyaman dipakai karena terapung pada kornea seperti kertas yang terapung pada air. Agar lensa kontak terapung baik pada permukaan kornea maka permukaan belakang berbentuk sama dengan permukaan kornea. Permukaan belakang lensa atau base curve dibuat steep (cembung kuat), flat (agak datar) ataupun  normal untuk dapat menempel secara longgar sesuai dengan kecembungan kornea. Perlekatan longgar ini akan memberikan kesempatan air mata dengan mudah masuk diantara lensa kontak dan kornea. Air mata ini diperlukan untuk membawa makanan seperti oksigen.
Keuntungan dibandingkan dengan kaca mata biasa antara lain:

  1. Pembesaran yang terjadi tidak banyak berbeda dibanding bayangan normal
  2. Lapang pandangan menjadi lebih luas karena tidak banyak terdapat gangguan tepi bingkai pada kaca mata.

Selain itu dapat pula dilakukan pembedahan. Salah satu terapi pembedahan yang cukup populer adalah dengan cara LASIK atau bedah dengan sinar laser. Pada lasik yang diangkat adalah bagian tipis dari permukaan kornea yang kemudian jaringan bawahnya dilaser. Pada lasik dapat terjadi hal-hal berikut : kelebihan koreksi, koreksi kurang, silau, infeksi kornea, ataupun kekeruhan pada kornea. Terapi bedah lain yang dapat dilakukan antara lain penanaman lensa buatan di depan lensa mata, pengangkatan lensa, radikal keratotomi dan Automated Lamelar Keratoplasty (ALK).

Sumber: www.perdami.or.id

Katarak

Definisi
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat penambahan cairan di lensa, pemecahan protein lensa, atau kedua-duanya.

Katarak merupakan penyebab kebutaan utama yang dapat diobati di dunia pada saat ini. Sebagian besar katarak timbul pada usia tua sebagai akibat pajanan terus menerus terhadap pengaruh lingkungan dan pengaruh lainnya seperti merokok, radiasi ultraviolet, dan peningkatan kadar gula darah. Katarak ini disebut sebagai katarak senilis (katarak terkait usia). Sejumlah kecil berhubungan dengan penyakit mata (glaukoma, ablasi, retinitis pigmentosa, trauma, uveitis, miopia tinggi, pengobatan tetes mata steroid, tumor intraokular) atau penyakit sistemik spesifik (diabetes, galaktosemia, hipokalsemia, steroid atau klorpromazin sistemik, rubela kongenital, distrofi miotonik, dermatitis atopik, sindrom Down, katarak turunan, radiasi sinar X).

Pasien dengan katarak mengeluh penglihatan seperti berasap dan tajam penglihatan menurun. Secara umum, penurunan tajam penglihatan berhubungan langsung dengan kepadatan katarak.

Gbr 1 : Perbedaan Penglihatan benda
pada mata normal dan mata katarak

Gejala dan Tanda
Gejala utama yang dijumpai adalah penglihatan berkabut dan penglihatan yang semakin kabur. Pada gejala awal dapat terjadi penglihatan jauh kabur sedangkan penglihatan dekat sedikit membaik dibandingkan sebelumnya (second sight). Bila kualitas lensa memburuk atau terjadi kelelahan maka second sight ini akan menghilang. Gejala lain yang dijumpai pada katarak senilis adalah penigkatan rasa silau (glare). Pada lensa mata penderita katarak akan tampak bayangan putih. Selain itu dapat pula terjadi pandangan ganda, rabun senja dan terkadang membutuhkan cahaya yang lebih terang untuk membaca.

Gbr 2 :Mata tanpa katarak                         Gbr 3 : Mata dengan katarak

Tata laksana
Satu-satunya terapi untuk pasien katarak adalah bedah katarak dimana lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan prosedur intrakapsular atau ekstrakapsular :

  • Ekstraksi intrakapsular (ICCE). Tehnik ini jarang dilakukan lagi sekarang.
  • Ekstraksi ekstrakapsular (ECCE). Pada tehnik ini, bagian depan kapsul dipotong dan diangkat, lensa dibuang dari mata, sehingga menyisakan kapsul bagian belakang. Lensa intraokuler buatan dapat dimasukkan ke dalam kapsul tersebut.  Kejadian komplikasi setelah operasi lebih kecil kalau kapsul bagian belakang utuh.
  • Fakofragmentasi dan fakoemulsifikasi. Merupakan teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran-getaran ultrasonik untuk mengangkat lensa melalui irisan yang kecil (2-5 mm), sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca-operasi. Teknik ini kurang efektif pada katarak yang padat.

Katarak biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun dan pasien mungkin meninggal sebelum diperlukan pembedahan.  Apabila diperlukan pembedahan maka pengangkatan lensa akan memperbaiki ketajaman penglihatan pada >90% kasus. Sisanya mungkin telah mengalami kerusakan retina atau mengalami penyulit pasca bedah serius misalnya glaukoma, ablasio retina, atau infeksi yang mengambat pemulihan daya pandang. Adanya lensa intraokular dan lensa kontak kornea menyebabkan penyesuaian penglihatan setelah operasi katarak menjadi lebih mudah dibandingkan sewaktu hanya tersedia kacamata katarak yang tebal.

Epidemiologi

Penelitian-penelitian di Amerika Serikat mengidentifikasi adanya katarak pada sekitar 10% orang, dan angka kejadian ini meningkat hingga sekitar 50% untuk mereka yang berusia antara 65 sampai 74 tahun, dan hingga sekitar 70% untuk mereka yang berusia lebih dari 75 tahun.

Sperduto dan Hiller menyatakan bahwa katarak ditemukan lebih sering pada wanita dibanding pria. Pada penelitian lain oleh Nishikori dan Yamomoto, rasio pria dan wanita adalah 1:8 dengan dominasi pasien wanita yang berusia lebih dari 65 tahun dan menjalani operasi katarak.

Pemeriksaan
Pada pasien katarak, dapat dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan. Tajam penglihatan biasanya akan sangat berkurang.

Sumber: klikdokter.com

Glaukoma

Definisi
Adalah suatu kelainan pada mata yang ditandai oleh meningkatnya tekanan dalam bola mata (Tekanan Intra Okular = TIO) yang disertai pencekungan diskus optikus dan pengecilan lapang pandang. Penyakit ini disebabkan:

  • Bertambahnya produksi humor akueus (cairan mata) oleh badan siliar
  • Berkurangnya pengeluaran humor akueus (cairan mata) di daerah sudut bilik mata atau di celah pupil.

Aliran Humor Akueus (cairan mata)
Terdapat 2 rute dalam pengeluaran humor akueus

  1. Melalui jaringan trabekular

Sekitar 90% humor akueus dikeluarkan melalui jalur ini. Dari sini akueus akan disalurkan ke kanal schlemm kemudian berakir di vena episklera.

  1. Melalui jaringan uveoskleral

Mempertanggung jawaban 10% dari pengeluaran akueus .

Klasifikasi
Terdapat beberapa pembagian glaukoma antara lain :

  1. glaukoma sudut terbuka (glaukoma kronis)
  2. glaukoma sudut tertutup (glaukoma akut)

Pemeriksaan penunjang untuk menilai glaukoma secara klinis

  1. Tonometri. Alat ini berguna untuk menilai tekanan intraokular. Tekanan bola mata normal berkisar antara 10-21 mmHg.
  2. Gonioskopi. Sudut bilik mata depan merupakan tempat penyaluran keluar humor akueus. Dengan gonioskopi kita berusaha menilai keadaan sudut tersebut, apakah terbuka, sempit atau tertutup ataukah terdapat abnormalitas pada sudut tersebut.
  3. Penilaian diskus optikus. Dengan menggunakan opthalmoskop kita bisa mengukur rasio cekungan-diskus (cup per disc ratio-CDR). CDR yang perlu diperhatikan jika ternyata melebihi 0,5 karena hal itu menunjukkan peningkatan tekanan intraokular yang signifikan.
  4. Pemeriksaan lapang pandang. Hal ini penting dilakukan untuk mendiagnosis dan menindaklanjuti pasien glaukoma. Lapang pandang glaukoma memang akan berkurang karena peningkatan TIO akan merusakan papil saraf optikus.

Glaukoma Akut
Merupakan glaukoma yang terjadi secara tiba-tiba dengan sumbatan aliran humor akueus yang lebih komplit. Nama lainnya adalah glaukoma sudut tertutup primer.


Epidemiologi
Terjadi pada 1 dari 1000 orang yang berusia di atas 40 tahun dengan angka kejadian yang bertambah sesuai usia. Perbandingan wanita dan pria pada penyakit ini adalah 4:1. sering terjadi pada kedua mata.

Gejala
Gejala-gejala yang ada antara lain :

  • Keluhan :
    • penglihatan kabur  mendadak
    • nyeri hebat
    • mual
    • muntah
    • melihat halo (pelangi disekitar objek)
  • Pemeriksaan Fisik :
    • Visus sangat menurun
    • TIO meninggi
    • Mata merah
    • Kornea suram
    • Bilik mata depan dangkal
    • Rincian iris tidak tampak
    • Pupil sedikit memlebar, tidak bereaksi terhadap sinar
    • Diskus optikus terlihat merah dan bengkak

Penatalaksanaan

  • Terapi medikamentosa

Tujuannya adalah menurunkan TIO terutama dengan menggunakan obat sistemik (obat yang mempengaruhi seluruh tubuh)
A. obat sistemik

    • Inhibitor karbonik anhidrase. Pertama diberikan secara intravena (acetazolamide 500mg) kemudian diberikan dalam bentuk obat minum lepas lambat 250mg 2x sehari
    • Agen hiperosmotik. Macam obat yang tersedia dalam bentuk obat minum adalah glycerol dan isosorbide sedangkan dalam bentuk intravena adalah manitol. Obat ini diberikan jika TIO sangat tinggi atau ketika acetazolamide sudah tidak efektif lagi.
    • Untuk gejala tambahan dapat diberikan anti nyeri dan anti muntah.

B. obat tetes mata lokal

    • Penyekat beta. Macam obat yang tersedia adalah timolol, betaxolol, levobunolol, carteolol, dan metipranolol. Digunakan 2x sehari, berguna untuk menurunkan TIO.
    • Steroid (prednison). Digunakan 4x sehari, berguna sebagai dekongestan mata. Diberikan sekitar 30-40 menit setelah terapi sistemik.
    • Miotikum. Pilokarpin 2% pertama digunakan sebanyak 2x  dengan jarak 15 menit kemudian diberikan 4x sehari. Pilokarpin 1% bisa digunakan sebagai pencegahan pada mata yang lainnya 4x sehari sampai sebelum iridektomi pencegahan dilakukan.
  • Terapi Bedah
    • Iridektomi perifer. Digunakan untuk membuat saluran dari bilik mata belakang dan depan karena telah terdapat hambatan dalam pengaliran humor akueus. Hal ini hanya dapat dilakukan jika sudut yang tertutup  sebanyak 50%.
    • Trabekulotomi (Bedah drainase). Dilakukan jika sudut yang tertutup lebih dari 50% atau gagal dengan iridektomi.

Glaukoma Kronis
Merupakan glaukoma yang terjadi perlahan-lahan dengan ciri-ciri :

    • Kerusakan seraf optikus glaukomatosa
    • Kerusakan lapangan pandang glaukomatosa
    • TIO beberapa kali berulang lebih tinggi dari 21 mmHg
    • Usia dewasa
    • Sudut bilik mata depan terbuka dan terkesan normal
    • Tidak adanya penyebab sekunder lainnya

Umumnya terjadi pada kedua mata akan tetapi tidak terdapat kesamaan pada perburukannya. Nama lainnya adalah glaukoma sudut terbuka primer.

Epidemiologi
Glaukoma kronis merupakan glaukoma yang tersering, mengenai sekitar 1 dari 200 seluruh populasi yang berusia lebih dari 40 tahun dan jumlahnya semakin meningkat sesuai dengan usia. Pria dan wanita mempunyai angka kejadian yang sama dan lebih sering mengenai kulit hitam dibandingkan kulit putih.

Faktor keturunan juga berperan terjadinya keadaan ini karena TIO, cara pengeluaran akueus dan ukuran diskus optikus dipengaruhi oleh genetik. Secara umum risiko terjadinya glaukoma pada saudara kandung sekitar 10% sedangkan pada keturunan sebanyak 4%.

Gejala klinis
Dari keluhan pasien umumnya penglihatannya yang makin menurun. Bahkan jika berlangsung cukup lama pasien akan mengeluhkan kehilangan penglihatan pada salah satu mata sedangkan mata yang lainnya menurun penglihatannya. Hal ini sesuai dengan teori dimana glaukoma kronik dimana umumnya kedua mata akan terkena meski perburukan keduanya tidak sama. Selain itu karena TIO yang meningkat pasien juga akan mengeluhkan adanya nyeri pada mata, sakit kepala dan perasaan seperti melihat halo (pelangi di sekitar objek) karena pembengkakkan pada kornea.

Gejala

  1. Penurunan lapang pandang
  2. Peningkatan TIO. Terdapat perbedaan 5 mmHg antara kedua mata perlu dicurigai adanya peningkatan yang abnormal.
  3. Sudut bilik mata depan terbuka
  4. Perubahan pada diskus optikus. Tampak kerusakan nervus optikus glaukomatosa atau terdapat ketidaksamaan pada cekungan pada pemeriksaan rutin.
  5. Tidak terdapat sebab lain yang dapat menyebabkan glaukoma kronik

Penatalaksanaan

  • Terapi obat-obatan

Terapi ini tidak diberikan pada kasus yang sudah lanjut. Terapi awal yang diberikan adalah penyekat beta (timolol, betaxolol, levobunolol, carteolol, dan metipranolol) atau simpatomimetik (adrenalin dan depriverin). Untuk mencegah efek samping obat diberikan dengan dosis terendah dan frekuensi pemberiannya tidak boleh terlalu sering. Miotikum (pilocarpine dan carbachol) meski merupakan antiglaukoma yang baik tidak boleh digunakan karena efek sampingnya.

Jika pengobatan belum efektif maka dapat dilakukan peningkatan konsentrasi obat, mengganti jenis obat atau menambah dengan obat lain.

  • Terapi bedah
    • Trabekuloplasti jika TIO tetap tidak bisa terkontrol dengan pengobatan medikamentosa yang maksimal.
    • Trabekulotomi (bedah drainase) jika trabekuloplasti gagal, atau kontraindikasi dengan trabekuloplasti atau diperlukan TIO yang lebih rendah lagi.

Sumber: www.perdami.or.id

Penyebab Dari Penyakit

Mengapa kita dapat mengalami berbagai penyakit??? Apa penyebabnya???

Apakah VIRUS??? Ya,.. ini bisa terjadi.. tetapi tahukah anda.. bahwa virus hanya ada 10% kemungkinan yang dapat menyebabkan tubuh kita mengalami penyakit. Sesungguhnya ada 90% pelbagai penyakit yang kita alamai terjadi karena adanya RADIKAL BEBAS!!!!!!

Apa yang menyebabkan radikal bebas:

Saat ini hampir semua orang mengalami masalah ini, baik orang tua maupun anak usia sekolah. Ada berbagai tekanan hidup yang harus kita alami. Untuk itu penyebab ini tidak bisa kita hindari.

Apakah mungkin kita juga menghindar dari ini??? Rasanya hal ini adalah sesuatu yang sangat mustahil!! Baik yang lokal apalagi import hampir semuanya mengandung bahan kimia/ pengawet.

Dengan menjamurnya berbagai makanan enak cepat saji, hampir semua orang tidak bisa terhindar dari radikal bebas jenis ini, apalagi bagi orang-orang yang tinggal di kota-kota besar. Mulai dari segala golongan usia mau kakek-nenek, orang tua, apalagi remaja dan anak-anak, karena bahan pengawet hampir ada di seluruh jenis makanan maupun minuman yang bersifat instan: mau yang cepat saji, kalengan, camilan dll.

Kita yang hidup di kota-kota besar pasti tidak bisa terhindar dari yang namanya POLUSI. Kalau kita mau terhindar gampang…. jangan keluar rumah..(sesuatu yang mustahil!!!!)

Terik matahari yang sangat menyengat saat-saat sekarang ini dapat menyebabkan radikal bebas.

Adalah sinar radiasi dari matahari dampak buruknya yg bisa terjadi Mempercepat penuaan kulit, dan Menyebabkan kanker kulit.

Apakah masih ada dijaman sekarang ini, orang tidak mempunyai Televisi. Rasanya sangat mustahil. Dan tahukah anda bahwa radiasi TV bukan saja menyerang mata tetapi semua anggota tubuh kita.. Bukan hanya TV adalah yang paling berbahaya Komputer, Laptop, Hand Phone, terlebih lagi BlackBerry.. Rasanya kehidupan kita tidak akan bisa terlepas dari benda-benda electronic diatas.. mulai dari anak yang belum sekolah… sampai kakek-nenek pasti akan terkena radiasi ini.

Ini sudah sangat kita ketahui, bahwa merokok sangat merusak kesehatan kita. Dan anda jangan lupa juga, yang sangat lebih berbahaya adalah orang yang berada di sekitar seorang perokok. Karena ini hindari Rokok.. Ini adalah yang paling penting.

Hindarilah minuman yang ber-Alkohol, apalagi kita hidup didaerah tropis, ini sangat tidak cocok untuk kita.

Olahraga adalah baik dan sangat menyehatkan, asal dilakukan dengan rutin setiap hari. Olahraga menjadi tidak sehat apabila kita lakukan hanya suatu hari tertentu dan sangat berkelebihan.

Jangan melakukan suatu gerakan dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Kita tidak mungkin dapat terhindar dari bahaya radikal bebas, karena itu jangan heran apabila kita mengalami kemerosotan dalam tubuh kita. Tubuh akan menjadi cepat tua. Dapatkah kita terhindar dari kemerosotan tubuh kita??? Dapat!!!! Telah Tersedia “Super Lutien” & “Izumio” suplemen No.1 dari Jepang. Buktikan!!!!

Jagalah Mata Anda

Mata adalah Pelita Tubuh, Organ tubuh yang satu ini sangat penting dan menjadi pusat  segala aktivitas kita, namun sering kita kurang memperhatikan dan merawat mata kita, sehingga timbul berbagai macam penyakit, bahkan di zaman yang serba modern ini membuat anak yang masih usia dini pun terserang penyakit mata bahkan sangat kronis, apalagi orang dewasa bahkan yang lanjut usia.  Gangguan mata yang tidak segera diobati secara dini dapat akan semakin parah bahkan bisa mengakibatkan kebutaan

Beberapa penyakit yang menyerang mata kita:

  1. Miopi, yaitu seseorang yang tidak dapat melihat benda yang berjarak jauh.
  2. Hipermetropi, yaitu seseroang yang tidak dapat melihat benda yang berjarak dekat dari mata.
  3. Astigmatisme, yaitu kelainan pada mata sehingga pancaran cahaya dari 1 titik tidak jatuh pada 1 titik fokus, yang menyebabkan pandangan menjadi kabur.
  4. Myodesopsia, yaitu adanya benda-benda yang “terbang” di sekitar mata mereka. Benda-benda ini bervariasi bentuk dan ukurannya. Ada yang kecil sampai besar, ada yang bening dan ada yang gelap sampai keruh.
  5. Katarak, yaitu suatu penyakit mata di mana lensa mata menjadi buram karena penebalan Lensa Mata dan terjadi pada orang lanjut usia (lansia).
  6. Glaukoma, yaitu salah satu jenis penyakit mata dengan gejala yang tidak langsung, yang secara bertahap menyebabkan penglihatan pandangan mata semakin lama akan semakin berkurang sehingga akhirnya mata akan menjadi buta. Ini biasanya terjadi pada penderita kencing manis (diabetes) atau karena  kecelakaan/operasi pada mata sebelumnya.
  7. Degenerasi Makula, yaitu suatu keadaan dimana makula mengalami kemunduran sehingga terjadi penurunan ketajaman penglihatan dan kemungkinan akan menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan sentral. Makula adalah pusat dari retina dan merupakan bagian yang paling vital dari retina. Makula merupakan bagian dari retina yang memungkinkan mata melihat detil-detil halus pada pusat lapang pandang.

Kini, untuk menjaga kesehatan mata kita telah tersedia produk suplemen “Super Lutein” asli Jepang, yang telah direkomendasikan oleh 6.600 doctors, dan telah terbukti mampu menyembuhkan segala penyakit mata. Selama syaraf mata masih ada, ada harapan yang sangat besar anda terhindar dari kebutaan.

Powered by WordPress | iCellPhoneDeals.com has the best cell phone Deals. | Thanks to Upgrade Sprint Phone, MMO Games and Conveyancing